oxium

OXIUM FAQ

oxium ADALAH?

 

what is oxium?

Oxium merupakan bahan aditif yang ditambahkan ke dalam material plastik konvensional untuk  mempercepat proses oksidasi dan biodegradasi plastik (oxidation-biodegradation process). Secara alamiah, plastik konvensional membutuhkan waktu sekitar 500-1000 tahun untuk bisa terurai. Sedang Oxium membuat proses degradasi pada plastik konvensional menjadi lebih cepat, hanya dalam kurun waktu 2-5 tahun (tergantung desain).

Oxium berbentuk biji plastik seperti master batch, yang umumnya digunakan dengan dosis tertentu dan ditambahkan ke dalam biji plastik konvensional.

 

Oxium is an additive that is added to conventional plastic materials to accelerate oxidation and biodegradation process. Naturally, conventional plastics take about 500-1000 years to degrade. Oxium makes the process of degradation in conventional plastics becomes faster, only within a period of 2-5 years (depends on the design).

Oxium in the form of plastic pellets like master batch, which is generally used with a certain dosage and added to conventional plastic pellets.


BAGAIMANA CARA KERJA OXIUM DALAM MEMPERCEPAT PROSES DEGRADASI PLASTIK?

 

How does oxium work in plastic degradation?

 

Pada dasarnya, plastik merupakan rantai hidrokarbon yang telah melalui proses polimerasi yang sangat panjang untuk bisa memiliki properti plastik yang diinginkan, yaitu, kuat, fleksibel, anti air, dan lain sebagainya. Panjang rantai karbon tersebut dapat mencapai > 7 juta, berbeda dengan nasi dan gula yang hanya memiliki < 100,000 rantai karbon. Panjang rantai karbon inilah yang membuat plastik memerlukan waktu antara 500 – 1000 tahun untuk dapat terurai secara fisik (fragmentasi) dan secara rantai molekul (degradasi) yang kemudian dapat diurai oleh mikroba (proses biodegradasi).

Oxium mampu mempercepat proses pemotongan rantai molekul plastik melalui bantuan oksigen, sinar UV, panas dan tekanan-tekanan lain yang tersedia secara alami di alam bebas melalui proses oksidasi. Proses oksidasi tersebut memungkinkan mikroba untuk mengonsumsi/mengurai plastik, karena itulah teknologi Oxium dikenal secara umum sebagai teknologi oxo-biodegradable (dua tahapan degradasi melalui proses oksidasi dan biodegradasi1).   

 

Basically, the polymerization process creates a very long hydrocarbon chain in plastics, which is about > 7 million. In contrast to rice and sugars whose hydrocarbon chains are just as long as < 100,000 carbon chains. The length of this carbon chain makes the plastic takes about 500 - 1000 years to decompose physically (fragmentation) and molecule (degradation) which is then broken down by microbes (biodegradation).

Oxium is able to accelerate the process of cutting the molecular chains of plastics through oxidation process from the oxygen, UV rays, heat and other environmental pressures. The oxidation process allows microbes to consume/decompose plastics, which is why Oxium technology is known generally as oxo-biodegradable technology (two stages of degradation through oxidation and biodegradation processes).


Oxium memiliki berbagai kelebihan seperti:

a.        Oxium membuat plastik biasa menjadi mudah terurai dan ramah lingkungan, melalui percepatan proses oksidasi dan biodegradasinya.  Karena itu Oxium turut berperan untuk mengurangi penumpukan dan polusi plastik yang terjadi di mana-mana.

b.        Dosis yang digunakan sangat kecil (dosis dari 2-10%), sehinga Oxium tidak merubah properti dasar plastik (tetap kuat, good oxygen barrier, dlsb.) Penambahan Oxium pada beberapa produk justru menambah keunggulan plastik tersebut. Pada PS foam misalnya, membuat plastik menjadi lebih ulet, sedang pada PS injection, warna menjadi lebih mengkilap.

c.        Pemakaian Oxium pun sangat mudah, produsen tidak perlu merubah proses produksi dan mesin yang digunakan. Cukup campurkan Oxium seperti master batch pada umumnya dan jalankan proses produksi seperti biasa.

d.        Penggunaan dosis dalam jumlah kecil tersebut tentunya membuat Oxium menjadi sangat ekonomis dan tidak menimbulkan beban biaya yang berat, hal ini terbukti dari populernya pemakaian Oxium bahkan di industri-industri yang terkenal mempunyai margin yang sangat tipis. Secara sifat teknologi dan ekonomi, Oxium sangat cocok untuk menjadikan produk-produk mass market dengan volume besar, murah, dan memiliki umur kegunaannya yang singkat (disposable), menjadi mudah terurai dan ramah lingkungan.

e.        Oxium terbuat dari bahan mineral alami (non heavy metal) yang aman.  Hal tersebut dikuatkan oleh hasil tes dari berbagai lembaga yang kredibel yang membuktikan bahwa Oxium aman bersentuhan langsung dengan makanan (food grade).  Diantaranya, Oxium telah lulus tes RoHS (Restriction of Hazardous Substances) & BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan

APA KELEBIHAN-KELEBIHAN OXIUM?

 

Oxium has many advantages such as:

-       Oxium makes coventional plastics to degrade easier and become environmentally friendly, through the acceleration of oxidation and biodegradation processes. Oxium contributes in reducing the buildup and plastic pollution that occurs everywhere.

-       The doses used are very small (dosage of 2-10%), so Oxium does not change the plastic base properties (stay strong, good oxygen barrier, etc.) The addition of Oxium to some products actually adds to the plastic's superiority. In PS foam for example, making the plastic becomes more ductile and the color appears shinier.

-       The use of Oxium is very easy, manufacturers do not need to change the production process and the machine used. Simply mix the Oxium like a master batch in general and run the production process as usual.

-       The use of small doses of course makes the Oxium becomes very economical and does not cause a heavy cost, this is evident from the popular use of Oxium even in industries that are known to have very thin margins. Technologically and economically sound, Oxium is ideal for mass market products, large, cheap, and have a disposable, useful life that is easy to decompose and environmentally friendly.

-       Oxium is made of a safe natural mineral (non-heavy metal) material. This is corroborated by test results from various credible agencies that prove that Oxium is safe in direct contact with food (food grade). Oxium has passed the RoHS (Restriction of Hazardous Substances) & BPOM (Food and Drug Administration

What are the advantages of oxium?


Oxium merupakan 100% buatan Indonesia karya anak bangsa. Teknologi tersebut diteliti dan dikembangkan oleh Inovator Indonesia asal Jambi, Sugianto Tandio. Bermula dari kegelisahannya terhadap permasalahan sampah plastik yang tak kunjung usai, beliau meneliti dan mengembangkan teknologi plastik ramah lingkungan selama 10 tahun hingga akhirnya pada tahun 2010, plastik dengan teknologi Oxium telah banyak digunakan di hampir 95% supermarket di Indonesia.

Pentingnya klaim yang benar, teruji, dan kredibel membuat Sugianto Tandio merasa perlu untuk mematenkan teknologi Oxium di Amerika dan Singapura. Karena itu Oxium adalah “100% Indonesian Technology with US Patent”. Untuk itu kita perlu bangga dengan teknologi karya anak bangsa ini.

APAKAH OXIUM BUATAN LUAR NEGERI?

 

 

 

 

 

 

Oxium is 100% Indonesian Technology. Researched and developed by an Indonesian innovator from Jambi, Sugianto Tandio. The technology has been used in almost all modern markets in Indonesia and has been granted Singapore and U.S. patents.

Is oxium an imported Technology?


APAKAH ADA BUKTI-BUKTI SERTIFIKASI ATAU REVIEW TERHADAP OXIUM DAN TEKNOLOGI OXO-BIODEGRADABLE?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oxium sudah terbukti lulus uji berbagai macam test berstandar internasional, antara lain:  

a.        ASTM D6954-04: “Standard Guide for Exposing and Testing Plastics that Degrade in the Environment by a Combination of Oxidation and Degradation”, dimana Oxium diuji untuk lulus melalui 3 Tier:

·         Tier 1: Oksidasi: plastik Oxium yang telah terdegradasi ditunjukkan dengan munculnya penurunan volatile mass dan bobot molekul dari plastik yang teroksidasi oleh panas, sinar UV, tekanan-tekanan mekanis lainnya.  Berbeda dengan fragmentasi yang pecah menjadi serpihan tetapi bobot molekul tidak berkurang. 

·         Tier 2: Biodegradasi dengan ASTM D5338: Oxium yang sudah terdegradasi tersebut ditaruh di dalam kondisi kompos dengan mikroba-mikroba yang banyak tersedia di alam. Indikator terjadinya proses biodegradasi dilihat dari munculnya pelepasan CO2, H20 dan pembentukan biomassa.

·         Tier 3: Ecotoxicity: Residu biomassa diuji untuk mengetahui dampak plastik ber-Oxium terhadap lingkungan dengan melakukan pengujian di dalam air (hasilnya pH tetap seimbang, yang berarti aman untuk lingkungan). Berikutnya merupakan tes terhadap pertumbuhan kecambah (hasilnya: tidak ada perbedaan dengan kontrol), efek terhadap pertumbuhan tanaman (hasilnya:  sama dengan kompos biasa, pertumbuhannya tetap sama dengan tanah biasa), serta efeknya terhadap perkembangan cacing tanah (hasilnya: tidak ada perbedaan dengan kontrol, cacing tidak mati, tetap berkembang seperti biasa). Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa Oxium berhasil mendegradasi plastik menjadi CO2, H20 dan biomassa yang aman.

b.        ASTM G21: “Standard Practice for Determining Resistance of Synthetic Polymeric Materials to Fungi”, hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa plastik yang mengandung Oxium menjadi tempat “makan dan berkembang biak” mikroba dan jamur yang bisa ‘makan’ dari plastik tersebut, berbeda dengan plastik biasa sebagai kontrol dimana mikroba dan jamur lantas mati.   

c.        ROHS, BPOM, Halal, Non heavy metal, FDA standard, Japanese food standard, dsb.

d.        Oxium juga sudah tersertifikasi ekolabel dari berbagai negara seperti, Green Label Singapore, sertifikasi MyHijau Malaysia, SIRIM Malaysia, dan tentunya Ekolabel Type 1 SNI Indonesia juga Type 2 Swadeklarasi Indonesia dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

e.        Oxium juga sudah diuji dan diliput oleh berbagai Universitas ternama di Indonesia seperti ITB (“Degradation of Degradable Plastics on Several Solid and Liquid Media”), Universitas Negeri Surabaya (“Isolation of Oxo-degradable Polyethylene Degrading-Bacteria of Benowo Landfill Soil Surabaya”).

Adapun test-test tersebut diatas kesemuanya dilakukan oleh pihak ketiga, seperti BPPT (Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Republik Indonesia), SIRIM Malaysia, BPOM, Universitas terkemuka Indonesia seperti ITB, dsb. 

 

Teknologi oxo-biodegradable sendiri sudah banyak dikenal dan terbukti efektif di berbagai negara seperti Arab Saudi, UAE, Pakistan, dsb. Beberapa referensi pihak ketiga yang netral juga sudah mendeskripsikan teknologi tsb. Berbagai penelitian independen mengenai teknologi oxo-biodegradable juga pernah dilakukan oleh berbagai pihak seperti berikut:

a.        Buku referensi “Introduction to Bioplastics Engineering” oleh Syed Ali Ashter, Elsevier.  Buku referensi ini bagaikan kitab yang membahas mengenai berbagai jenis teknologi Bioplastik. Pada halaman 27 dan 28 telah diuraikan secara gamblang mengenai ‘isi perut’ teknologi oxo-biodegradable dan berbagai proses degradasinya. Salah satu kutipan penting dari buku tersebut yaitu, “The degradation process not only involves fragmentation but also changes the molecular structure of the material so that it ceases to be a plastic and becomes biodegradable. It then disappears completely without leaving any fragments or toxic residues, instead changing into carbon dioxide, water, and biomass. The end result is no plastic, no harmful residues, and no long-term damage at all.”

b.        Laporan Eunomia Report untuk European Commission tentang teknologi oxo-biodegradable technology/PAC – Pro-Oxidant Additive Containing plastic: “From the information studied, the authors of this report can believe that it is possible for a PAC plastic (oxo) to fully mineralize in an open environment, with the prodegradant additives encouraging this action, and thus the polymers and entrained substances can be assimilated into the natural environment (hal. 46)”

 

Tak hanya lolos uji berbagai standar pengujian, teknologi Oxium juga mendapat berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri, seperti:

a.        Oxium sebagai 100% teknologi Indonesia sudah mendapat “United States of America Patent” (yang prosesnya memakan waktu 4 tahun). Proses aplikasi dan evaluasi US Patent ini terkenal sebagai proses yang paling menyeluruh dan teliti, serta harus mampu membuktikan kesahihan dan sumbangsihnya untuk membantu mengurangi polusi.

b.        Oxium juga mendapat penghargaan “President’s Industry Pioneer Award, Top 18 National Technology Award, Best Applied Innovation Award” oleh Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang kesemuanya harus melalui proses uji dan paparan teknis yang tidak mudah.

 

Semua hal-hal diatas memastikan bahwa oxo-biodegradable telah melalui berbagai uji, sertifikasi, kredibilitas, pengakuan dunia internasional, sehingga dampak dan kontribusi positif teknologi ini – yang jika sudah dimengerti secara benar (baik dari sisi cara bekerja, aplikasi, lingkungan pendukung yang dibutuhkan) – tidak perlu diragukan lagi.

 

Oxium has been proven to pass international standardized tests such as, ASTM D6954-04: "Standard Guide for Exposing and Testing Plastics that Degrade in the Environment by a Combination of Oxidation and Degradation", where Oxium is tested to pass through 3 Tiers:

•      Tier 1: Oxidation: Degradation in plastic with Oxium is shown by decreasing volatile mass and molecular weight of plastics oxidized by heat, UV, and other environmental pressure. The plastic turns into micro particles. In contrast to fragmentation that breaks into micro plastics which the molecular weight stays the same.

•      Tier 2: Biodegradation with ASTM D5338: the degraded Oxium plastics then placed in a compost condition with microbes that are widely available in nature. The biodegradation process is shown by the emersion release of CO2, H20 and biomass formation.

•      Tier 3: Eco-toxicity: The biomass residue is tested to determine the impact of Oxium plastics on the environment by testing in water (the pH results remain balanced, which means safe for the environment). Next is a test for the growth of sprouts (the result: no difference with control), the effect on plant growth (the result: the same as regular compost, the growth remains the same as regular soil), and its effect on the development of earthworms (result: no difference with control, the worm stay alive and keeps growing as usual). The test results prove that Oxium successfully degrade the plastic into CO2, H20 and safe biomass.

In addition to ASTM D6954, Oxium is also tested using ASTM G21, ROHS, BPOM, Halal, Non-heavy metal, FDA standard, Japanese Food Standard, and so on. Various certificates of eco-label have also been obtained by Oxium, such as, Green Label Singapore, Malaysia Green Certification, SIRIM Malaysia, and of course Eco-label Type 1 SNI Indonesia and Eco-label Type 2 Indonesia from the Ministry of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia.

 

Oxo-biodegradable technology itself is widely known and proven effective in various countries such as Saudi Arabia, UAE, Pakistan, and so on. Some neutral third-party references have also described the technology. Various independent research on oxo-biodegradable technology has also been conducted by various parties such as the following:

-       Reference book "Introduction to Bioplastics Engineering" by Syed Ali Ashter, Elsevier. This reference book is like a book that discusses different types of bioplastic technology. On pages 27 and 28 have been clearly described the 'contents' of oxo-biodegradable technology and its various degradation processes. One important quote from the book is, "The degradation process not only involves the biodegradable molecular structure of the material so that it ceases to be a plastic and becomes biodegradable. It then disappears completely without leaving any fragments or toxic residues, instead changing into carbon dioxide, water, and biomass. The end result is no plastic, no harmful residues, and no long-term damage at all

-       Eunomia Report Reported for the European Commission on oxo-biodegradable technology / PAC technology - Pro-Oxidant Additive Containing plastic: "From the information studied, the authors of this report can be sure that it is possible for a PAC plastic (oxo) to fully mineralize in. an open environment, with the prodegradant additives encouraging this action, and so the polymers and entrained substances can be assimilated into the natural environment (p.46) "

 

Not only passed the test of various testing standards, Oxium technology also received various awards, such as:

a. Oxium as 100% technology Indonesia has got "United States of America Patent" (the process takes 4 years). The US patent application and evaluation process is well known as the most thorough and meticulous process, and must be able to prove its validity and contribution to help reduce pollution.

b. Oxium is also awarded "President's Industry Pioneer Award, Top 18 National Technology Award, Best Applied Innovation Award" by the Minister of Research and Technology of the Republic of Indonesia which all have to go through the process of testing and technical exposure that is not easy.

 

All of the above ensure that oxo-biodegradable has passed various tests, certifications, credibility, international recognition, so that the positive impact and contribution of this technology - if properly understood (in terms of how to work, applications, support environments required) - No need to be in doubt.

Is there any evidence of certification or review of Oxium and oxo-biodegradable technology?


a.        Masih ada kebingungan / misinformasi / informasi yang tidak lengkap atau keliru

banyak orang awam (tanpa latar belakang yang mumpuni/kredibel seperti kimia, engineering, plastik, dan lain sebagainya) mengira oxo-biodegradable hanya menyebabkan plastik terfragmentasi. Faktanya mata awam memang sulit melihat proses degradasi tersebut. Tidak mudah untuk membedakan potongan plastik yang muncul dari proses fragmentasi atau plastik yang mengalami degradasi dimakan mikroba dan sedang terurai, apalagi menimbang berat molekul tanpa alat-alat laboratorium yang mendukung. Maka bisa dikatakan bahwa pernyataan tersebut tidak benar dan menimbulkan misinformasi.

b.       Konteks lokal negara masing-masing yang berbeda

Menanggapi tantangan permasalahan sampah plastik, kita tidak bisa dan tidak boleh bertindak secara simplistik dengan meniru solusi negara-negara lainya tanpa mempertimbangkan konteks masing-masing negara secara mendalam (copy & paste). Setiap negara memiliki konteks masing-masing seperti, luas wilayah, tingkat GDP/ekonomi per kapita, iklim, infrastruktur, sumber daya alam yang tersedia, situasi pembuangan akhir sampahnya (apakah dibakar dengan incinerator atau dibuang ke TPA/landfill), dst. Kesemuanya akan menentukan solusi terbaik untuk masing-masing negara, menyeimbangkan kelestarian alam serta kesejahteraan ekonomi masyarakat dan ketahanan negara.

Di Belanda misalnya, (dan kebanyakan negara di Eropa) dengan GDP per capita >$50,000 dengan luas wilayah hanya > 45,000 km2, infrastruktur yang sudah sangat baik, tentunya masuk akal memilih daur ulang dan incinerator sebagai solusi utama. Mendaur ulang sebanyak mungkin material dan membakar sisa sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang.

Amerika Serikat sebagai contoh lain, meskipun negara kaya dan luas wilayahnya hampir mencapai 10,000,000 km2, mereka pun memakai TPA sebagai solusi utama pembuangan sampahnya, dan cenderung memilih green plastic dari jagung karena ketersediaan jagung yang luar biasa banyak di AS.

Sedang di Indonesia, dengan luas wilayah 1,900,000 km2, 17,000 pulau, infrastuktur yang masih buruk, dan GDP per capita sekitar $3,500, solusi penanganan plastik apa yang tepat untuk rakyat Indonesia?  Sejatinya Indonesia membutuhkan Reduce, Reuse, Recycle, juga Return to Earth (degradable) karena begitu banyak disposable packaging, shopping bags, dlsb., yang sangat murah, tipis, dan sangat sulit dikoleksi kembali setelah didistribusikan ke 17,000 pulau.  Bisa jadi upaya dan dana yang dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut lebih besar daripada yang bisa didapat dari material-material yang coba dikoleksi. Diperlukan full Life Cycle Analysis untuk menentukan pilihan-pilihan intervensi yang efisien dan efektif. 

Tingkat ekonomi juga sangat menentukan.  Sebagai ilustrasi, makan di restoran cepat saji di Amerika Serikat dengan harga makanan per porsinya $8 dan harga green packaging sebesar %0,50, maka masih masuk akal. Coba dibandingkan dengan yang terjadi di Indonesia, dengan nasi goreng yang harganya hanya sekitar $0,70, berapa harga kemasan yang biasa dipakai oleh kebanyakan rakyat Indonesia?

Keadaan iklim juga merupakan faktor penentu cocok tidaknya suatu teknologi.  Teknologi oxo-biodegradable misalnya, dengan trigger untuk oksidasinya berdasarkan oksigen, panas matahari, UV, kelembaban, banyaknya mikroba, dst, sangatlah cocok untuk iklim negara-negara di Selatan garis khatulistiwa. Realita ini cukup berbeda dengan iklim negara-negara Eropa maupun empat musim lainnya.  

Karena itu, dengan mempertimbangkan semua faktor diatas, maka seyogyanya semua pelaku usaha dan pemangku kepentingan bekerja sama: less ego more ecoReduce saja tidak akan cukup, Reuse ataupun Recycle saja juga tidak cukup. Return to Earth saja juga tidak cukup. Renewal (dari Waste to Energy) juga tidak cukup, karena biaya mesin sangat mahal, belum lagi sampah dan iklim kita yang lembab sehingga energi yang dibutuhkan untuk membakar sampah tersebut sangatlah besar (sehingga mahal).

Semua harus bekerja sama di dalam suatu roadmap / master plan.  Dan jangan copy & paste saja dari Negara-negara lain apalagi yang konteksnya sangat berbeda.  Bisa jadi nantinya Indonesia lagi-lagi hanya menjadi pasar saja, bukan tuan rumah di negeri sendiri.

c.        Kompetisi antar teknologi

Di Eropa kompetisi antara bioplastik (bio-based plastics) melawan oxo-biodegradable menjadi semakin sengit. Tidak jarang terjadi saling menjelekkan dan mendiskreditkan satu sama lain. Seringkali ketika membaca laporan negatif tentang teknologi oxo-biodegradable, laporan tersebut hampir pasti dibuat oleh institusi, produsen atau asosiasi, bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lain yang beragenda untuk mendorong bioplastik, demikian juga sebaliknya.

Tidak jarang juga terjadi misinformasi seperti, teknologi oxo-biodegradable dianggap tidak biodegradable karena sewaktu diuji menggunakan ASTM 6400 (untuk compostable plastic) tidak lulus. Jika ditelaah lebih seksama, tentu saja hasilnya tidak lulus karena pengujian plastik berteknologi oxo-biodegradable harusnya menggunakan pengujian ASTM 6954. Demikian sebaliknya dengan pengujian pada bioplastic compostable yang jika diuji menggunakan standar pengujian ASTM 6954 hasilnya juga pasti tidak akan lulus.

Informasi mengenai klaim yang diterima oleh masyarakat juga banyak yang tidak lengkap. Banyak klaim yang tidak disosialisasikan dengan semestinya sehingga seringkali membuat orang awam mengira compostable ASTM 6400 adalah yang terbaik, padahal untuk plastik compostable dibutuhkan industrial composter yang besar, yang dapat dipastikan tidak ada di Indonesia. Tanpa industrial composter, bioplastik tersebut tidak akan terurai, melainkan justru menjadi kontaminan karena tidak bisa didaur ulang bersama plastik lainnya (sedangkan plastik dengan teknologi oxo-biodegradable bisa).

Sikap saling menjelekkan dan menganggap teknologi masing-masing paling unggul inilah yang counter productive dan menambah kebingungan pada masyarakat. Padahal setiap teknologi memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing, tergantung siapa yang menggunakan, memakai, dan dalam konteks apa.  

Hal-hal tersebut diatas lah yang menyebabkan munculnya kebingungan-kebingungan mengenai teknologi oxo-biodegradable dan bioplastik lain secara umum.  

 

MENGAPA ADA KEBERATAN-KEBERATAN TERHADAP OXIUM ATAU TEKNOLOGI OXO-BIODEGRADABLE INI?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

a. There is still confusion / misinformation / information that is incomplete or wrong

Many people (without a credible background such as chemistry, engineering, plastics, etc.) think oxo-biodegradable only causes fragmented plastics. In facts the it is difficult to see the process of degradation. It is not easy to distinguish plastic pieces that arise from fragmentation or plastic processes that are degraded by microbes and are being unraveled, let alone weighing molecular weights without supporting laboratory equipment. So it can be said that the statement is not true and cause misinformation.

b.     Difference in local context

Responding to the challenge of plastic waste problems, we should not act simplistically by imitating the solutions of other countries without considering the context of each country in depth (copy & paste). Each country has its own context such as, area, GDP / per capita economy, climate, infrastructure, available natural resources, the final waste disposal situation (whether incinerated or dumped into landfill), etc. All will determine the best solution for each country, balancing the natural conservation and economic welfare of society and the resilience of the state

In Netherlands, for example, (and most countries in Europe) with GDP per capita> $ 50,000 with an area of> 45,000 km2, a very good infrastructure, it certainly makes sense to choose recycling and incinerator as the main solution. Recycle as much material as possible and burn the rest of the plastic waste that can’t be recycled.

The United States as another example, although rich countries and areas of nearly 10,000,000 km2, they use landfill as the main solution of garbage disposal, and tend to choose green plastic from corn because of the availability of maize is very much in the US.

Being in Indonesia, with an area of ,900,000 km2, 17,000 islands, poor infrastructure, and per capita GDP of about $ 3,500, what plastic handling solutions are right for the people of Indonesia? Indonesia needs Reduce, Reuse, Recycle, also Return to Earth (degradable) because so many disposable packaging, shopping bags, etc., which is very cheap, thin, and very difficult to collect back after distributed to 17.000 islands. It may be that the effort and the funds needed to do so outweigh what can be obtained from the materials that it is trying to collect. Full Life Cycle Analysis is required to determine most efficient and effective intervention options.

The economic level is also very decisive. As an illustration, eating at a fast-food restaurant in the United States with a $ 8 per meal price and a $ 0.50 green packaging price, it still makes sense. Try compared to what happened in Indonesia, with fried rice that cost only about $ 0.70, what is the price of packaging commonly used by most people of Indonesia? Climatic state is also a determinant of whether or not a technology. Oxo-biodegradable technology, for example, with triggers for its oxidation based on oxygen, solar heat, UV, moisture, microbial quantities, etc., is particularly suited for the climate of countries on the southern equator.

This reality is quite different from the climate of European countries and other four seasons countries. Considering all the above factors, then all business actors and stakeholders should work together: less ego more eco. Reduce alone will not be enough, Reuse or Recycle alone is also not enough. Return to Earth alone is also not enough. Renewal (from Waste to Energy) is also not enough, because the cost of the machine is very expensive, not to mention our garbage and humid climate so that the energy needed to burn the waste is very big (so expensive). We all must work together in a roadmap / master plan. And do not copy & paste it from other countries let alone the context is very different. Could be later Indonesia is again only a market, not the host in their own country.

c.     Competition Between Technologies

In Europe competition between bioplastics (bio-based plastics) against oxo-biodegradable becomes increasingly fierce. It is common to discredit each other and discredit each other. Often when reading negative reports about oxo-biodegradable technology, the report is almost certainly created by institutions, producers or associations, even other non-governmental organizations (NGOs) that are entitled to encourage bioplastics, and vice versa.

There is a lot misinformation such as, oxo-biodegradable technology is considered not biodegradable because when tested using ASTM 6400 (for compostable plastic) did not pass. If examined more carefully, of course the results do not pass because the testing of oxo-biodegradable plastic technology should use ASTM 6954 test. In contrast with the test on bioplastic compostable which, if tested using ASTM 6954 testing standards also will not pass results.

Information about claims received by the public is also a lot incomplete. Many claims are not properly socialized so that it often makes people think the compostable ASTM 6400 is the best, but for compostable plastics required a large industrial composter, which certainly does not exist in Indonesia. Without industrial composters, the bioplastics will not decompose, but instead become contaminants because they can’t be recycled with other plastics (whereas plastic with oxo-biodegradable technology can).

The attitude of mutual slander and consider each technology is the most superior that add confusion to the community. Yet every technology has its own strengths and limitations, depending on who uses, usage, and in what context.

These are the causes of confusion about other oxo-biodegradable and bioplastic technologies in general.

Why there are objections to Oxium or this oxo-biodegradable technology?


Regulasi sayangnya terkadang dipakai menjadi senjata untuk ekspansi bisnis pelaku-pelaku green plastics.  Bahwa yang perlu disadari oleh semua pihak sesungguhnya adalah plastik konvensional yang merupakan musuh bersama kita setelah ia berubah menjadi sampah. Penumpukan, tidak bisa terurai, polusi, terfragmentasi menjadi mikroplastik dan mencemari lingkungan. Ini yang harus diperangi. Pemerintah baiknya memvalidasi pilihan2 teknologi yang ada, pastikan sesuai klaim, lalu biarkan mereka berkompetisi di pasar, agar efisien dan tidak membebani rakyat. Jika Pemerintah memilih salah satu teknologi tertentu, akan terkesan sekali bias dan bisa dianggap conflict of interest. Teknologi tersebut juga cenderung bisa mahal (karena menjadi monopoli) dan membebani rakyat.  Harusnya pemerintah pilih beberapa pilihan teknologi yang sudah teruji, terbukti, dan biarkan berkompetisi secara sehat di pasar.


Di dunia ini, setidaknya UAE, Arab Saudi, Pakistan, Yemen, memandatory kan pemakaian plastik dengan teknologi oxo.  Ini sangat bisa dipahami karena harga yang kompetitif, industri petrokimia yang besar, dan juga iklim yang panas dan UV terik panjang setiap tahunnya, menjadikan negara2 tersebut ideal untuk teknologi oxo-biodegradable.  Eropa mempunyai kecenderungan Recycle dan Waste to Energy / incinerator, karena negara2 mereka kecil2 dengan system collection yang sangat baik.  Amerika Serikat dengan landfillnya dan teknologi PLA (bioplastik dari jagung) yang dijagokan.  Negara-negara tetangga di Asia Tenggara pada umumnya terbuka dengan berbagai teknologi green plastik, baik oxo maupun bioplastik.  Indonesia seyogyanya mendorong dan mengembangkan teknologi2 lokal milik anak bangsa, yang sudah ada adalah beberapa type oxo-biodegradable maupun bioplastik2 dari singkong.  Ini semua harus didorong karena sesuai dengan iklim, keadaan ekonomi, keadaan infrastruktur Indonesia, dst.  Yang pasti jangan hanya copy paste / mengikuti, misalnya dari Eropa.  Di jaman sekarang, kita harus berdaulat sendiri.  Akhir-akhir ini Eropa pun sudah menolak kelapa sawit kita sebagai standar mereka, apakah kita lantas mau ikuti Eropa dengan menolak kelapa sawit kita sendiri?  

BAGAIMANA DENGAN REGULASI? DIMANA LAGI TEKNOLOGI OXO-BIODEGRADABLE DIKENAL DAN DIPAKAI?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Regulation unfortunately sometimes used as a weapon for business expansion of the perpetrators of green plastics. That all the parties need to realize is actually the conventional plastic that is our common enemy after it turns into garbage. Stacking, unraveling, polluting, fragmented into microplastic and polluting the environment. This is what must be fought. The government is good at validating the existing technological options, make sure as claimed, then let them compete in the market, to be efficient and not burden the people. If the Government chooses one particular technology, it will be biased and can be considered as conflict of interest. The technology also tends to be expensive and burdens the people. The government should select some technological options that have been tested, proven, and let the competition in a healthy market.

In this world, at least UAE, Saudi Arabia, Pakistan, Yemen, mandatory use of plastic with oxo technology. This is understandable because of the competitive price, the large petrochemical industry, as well as the long hot and UV hot climate every year, making them ideal for oxo-biodegradable technology. Europe has the tendency of Recycle and Waste to Energy / incinerator, because they are small countries with a very good collection system. The United States with its landfill and the favored PLA (bioplastic from corn) technology. The countries of Southeast Asia are generally open with a variety of green plastic technologies, both oxo and bioplastics. Indonesia should encourage and develop local technologies belonging to the nation, which already exist are several types of oxo-biodegradable and bioplastic from cassava. This should all be encouraged because it is in accordance with the climate, economic conditions, the state of Indonesia's infrastructure, and so forth. Certainly not just copy paste / follow, for example from Europe. In today's world, we must sovereign ourselves. Lately Europe has rejected our oil palm as their standard, do we then want to follow Europe by refusing our own oil palm?

How about regulation?


Oxium sangat dapat di Recycle, selama dikoleksi dan di Recycle sebelum terdegradasi.  Masa degradasi Oxium rata2 2-5 tahun, jadi sangat banyak waktu untuk para Recyler mengkoleksi plastik2 untuk di recycle (minimal ada 1 tahun).  Kalau sudah terlalu lama plastik2 tersebut haruslah direlakan untuk terdegradasi agar tidak terjadi penumpukan dan membahayakan seperti di TPA Leuwigajah.  Karena dosis Oxium yang kecil, jika sudah direcycle produk lanjutannya cenderung stabil.  Roediger report maupun TCKT report di Jerman sudah test dan analisa secara mendetil melt flow, kestabilan properti2 recycled oxo-biodegradable plastik dan didapati semuanya stabil tidak ada dampak.  Di Indonesia, beberapa converter plastik juga sudah mencoba recycle plastik Oxium (bahkan beberapa kali) dan tidak dijumpai penurunan kualitas sama sekali. 

Kekhawatiran bahwa Oxium menyebabkan plastik tenggelam juga sudah terbukti tidak benar, karena penambahan CaCo3 lah yang menyebabkan plastik oxo-biodegradable tenggelam, bukan additivenya.

APAKAH OXIUM / OXO-BIODEGRADABLE DAPAT DI RECYCLE?

 

 

 

 

 

 

 

Oxium is highly recyclable, during collection and Recycle before degradation. The Oxium degradation period is 2-5 years, so it is very much time for the Recyler to collect the plastic to recycle (at least 1 year). If it has been too long plastic must be relegated to be degraded so as not to happen accumulation and harm as in Leuwigajah Landfill. Because of the small doses of Oxium, if it has been recycled the product continued to be stable. Roediger report and TCKT report in Germany have tested and analyzed in detail the melt flow, the stability of the recycled oxo-biodegradable plastic properties and found all stable no impact. In Indonesia, some plastic converters have also tried recycling Oxium plastic (even several times) and no quality degradation at all.

The concern that Oxium causes drowned plastics has also been proven to be untrue, as the addition of CaCo3 is what causes oxo-biodegradable plastic to sink, rather than its additive.

Is Oxium/Oxo-biodegradable recycleable?


Semoga FAQ dan penjelasan-penjelasan diatas bisa berguna untuk pengetahuan dan kebaikan kita semua bersama.  Untuk Indonesia yang lebih hijau melalui kerja sama kita semua.

Hopefully the above FAQs and explanations can be useful for the knowledge and the good of us all together. For a greener Indonesia through our cooperation.

 

Additional Resources

1.  www.biodeg.org (Oxo-biodegradable Plastics Association di Eropa) dan www.obpf.org (Oxo-biodegradable Plastics Federation).

2.   http://www.biodeg.org/Rethinking%20the%20future%20of%20plastics%20%20-%208-2-18.pdf