CEO Greenhope Merespon Berbagai Regulasi Pelarangan Plastik di Indonesia

CEO Greenhope Merespon Berbagai Regulasi Pelarangan Plastik di Indonesia

Jakarta, 8 Januari 2018 - Greenhope sebagai pioner produsen teknologi ramah lingkungan mudah terurai buatan 100% putra Indonesia yang sudah diuji secara internasional dan sudah dipatenkan baik di Amerika maupun Singapura, dengan dua brandnya, Ecoplas (plastik yang terbuat dari singkong) dan Oxium (aditif pengurai plastik konvensional), sangat memahami betapa regulasi-regulasi mengenai pelarangan penggunaan plastik kini cukup membuat resah berbagai kalangan.  Industri saat ini kalang kabut menentukan langkah apa yang seharusnya dilakukan, masyarakat luas juga bingung menentukan alternatif pengganti plastik yang bisa digunakan dan tersedia di pasaran. Industri plastik ramah lingkungan pun tak luput dibuat bingung dengan berbagai pelarangan yang muncul di berbagai daerah dan tidak selaras, karena setiap daerah mendadak menjadi “ahli plastik”, “ahli teknologi”, “ahli uji”, dlsb. Dan mendefinisikan standar ramah lingkungan masing-masing.  Bisa dibayangkan dampaknya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, terhadap usaha-usaha, roda perekonomian, standar operating procedures (SOP2) yang lintas daerah, bisa macet semua.

Menanggapi hal tersebut, CEO Greenhope (PT Harapan Interaksi Swadaya) Bapak Tommy Tjiptadjaja, menyatakan bahwa sesungguhnya pihaknya turut mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh berbagai pihak dalam menanggulangi krisis sampah plastik saat ini karena sangat selaras dengan misi Greenhope untuk membuat produksi dan konsumsi masyarakat lebih berkelanjutan (United Nation Sustainable Development Goal No 12). Beliau juga sangat berterima kasih terhadap berbagai pihak yang sudah konsisten bermigrasi dari plastik konvensional ke plastik ramah lingkungan, terutama Ecoplas dan Oxium.  Memang dinamika dunia plastik saat ini sedang sangat bergejolak, sedang transisi dari plastik konvensional ke berbagai wujud Reduce, Reuse, Recycle, dan Return to Earth (menangani end of life nya sampah tersebut). Setiap “R” itu penting perannya agar dampaknya riil, significant, bersatu padu. Maka tidak heran bila hal tersebut menimbulkan kebingungan di berbagai kalangan, tak hanya industri secara umum, masyarakat awam, bahkan industri plastik ramah lingkungan itu sendiri.

Namun begitu beliau percaya bahwa pengguna teknologi Ecoplas dan Oxium sesungguhnya sudah berada di jalur yang benar dan tepat. Ke depannya teknologi ini akan menjadi solusi yang sangat relevan dan berkelanjutan dengan dilandasi berbagai hal berikut:

  1. Perpres 83 tahun 2018 yang ditandatangani oleh Presiden Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo. Beliau membentuk tim yang dikoordinasi dan diketuai oleh Menteri Kemenko Maritim dan ketua harian Menteri KLHK, memberi mandat agar segera menyelesaikan permasalahan sampah plastik yang masuk ke laut. Tim tersebut membawahi inisiatif dari 16 kementerian dengan salah satu fokusnya yaitu peningkatan industri degradable dan daur ulang. Pemerintah dimandatkan menaikkan dan mendukung industri tersebut baik dari hulu maupun hilir. Jadi industri-industri tersebut harus didorong lebih lagi pertumbuhannya baik di tingkat teknologi maupun di tingkat barang jadi (finished goods).

  2. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sendiri sesungguhnya sudah mengesahkan standar SNI Ekolabel Tipe 1 7188.7:2016 dan Ekolabel Tipe 2 Swadeklarasi untuk Ecoplas dan Oxium, melalui proses yang sangat panjang dan relevan dengan melibatkan berbagai pihak yang kredibel seperti LIPI, doktor2 pemegang paten biodegradable lulusan Jepang maupun yang sekolah beasiswa di Jepang, juga berbagai pihak independen. Secara menyeluruh, masing-masing pihak sudah mereview kedua teknologi tersebut dengan standar-standar internasional yang relevan dan menyatakan bahwa Ecoplas dan Oxium telah lolos uji.

  3. Teknologi2 yang sudah lolos uji dalam negeri tersebut seperti Ecoplas, Oxium, dan juga ada teknologi2 lain juga yang sudah lolos, masing-masing sudah lulus berbagai uji teknis standar internasional yang intensif, menyeluruh, seperti ASTM 6954, ASTM 6866, ASTM 5208, ASTM G21, uji migrasi standar BPOM, FDA, Jepang, dlsb. lainnya.  Jadi semua tes2 ini sangat serius sifatnya, teruji dan terbukti.

“Menurut pandangan kami, kami percaya nanti akan ada sinkronisasi kebijakan antara daerah dengan pusat. Karena kebijakan-kebijakan yang saat ini terbit memiliki definisi ramah lingkungan yang berbeda satu sama lain dan tidak holistik. Penterjemahan definisi ramah lingkungan yang holistik seharusnya melihat berbagai aspek pendukung, seperti life cycle analysis, kemudian konsumsi energi, bahkan aspek mudah terurainya pun juga perlu ditinjau. Mudah terurai pun harus dijui dengan tes dan alat yang tepat dengan standar pengujian internasional yang tepat pula, bukan hanya uji di jalanan oleh awam saja. Analisa mikroplastik hanya bisa dilakukan dengan standar uji dan alat yang benar.  Kami mengajak agar bersama-sama menjadi lebih hijau tetapi jangan overreact”, begitu beliau menjelaskan.

“Untuk itu teman-teman sudah ada di jalur yang benar, intensi yang benar, dengan landasan hukum yang benar, sehingga kalau ada pihak-pihak yang masih bingung bisa dijelaskan dengan keterangan-keterangan tersebut.  Mungkin di jangka pendek ini masih ada kebingungan, tetapi kita yakin pada ujungnya akal sehat, prinsip kehati2an, standar Negara Kesatuan agar roda perekonomian lintas daerah jalan terus, akan menang. Kita semua harus meningkatkan utamanya penanganan sampah lebih baik lagi, perilaku masyarakat harus ditingkatkan, pemakaian plastik perlu dikurangi (Reduce), botol2 bisa pakai ulang (Reuse), daur ulang ditingkatkan (Recycle), dan pemakaian plastik harus lebih mudah terurai (Return to Earth).  Jika semuanya dilakukan bersatu padu dan jangan tumpang tindih, kiranya kita akan bersama mencapai Indonesia yang lebih hijau tetapi juga sejahtera”, tutupnya.

Greenhope Selected for Unreasonable Goals Program for Dedication to Addressing the UN’s Sustainable Development Goals by 2030

Greenhope Selected for Unreasonable Goals Program for Dedication to Addressing the UN’s Sustainable Development Goals by 2030

December 4, 2018 – After a rigorous selection process involving hundreds of world-class companies from across the world, Tommy Tjiptadjaja from Greenhope, Indonesia was chosen to join fifteen other ventures in the second annual Unreasonable Goals program that ran in November 2018.

On September 25, 2015, leaders from 193 countries came together at the United Nations and adopted a set of 17 Sustainable Development Goals (SDGs) that include ending hunger, conserving the oceans, ensuring gender equality, and providing access to clean energy for all. Unreasonable Goals is a partnership between governments, multinationals, and Unreasonable Group with the singular focus of accelerating our ability to achieve these noteworthy goals by leveraging market forces.

The two-week program is designed to bring together 16 highly scalable entrepreneurial solutions, each uniquely positioned to solve at least one of the SDGs. The 17 th goal represents the importance of public-private partnerships to achieve the UN’s agenda, with the Secretary’s Office of Global Partnerships at the U.S. Department of State as the founding partner of this initiative in 2017. The cornerstone partners this year include Johnson & Johnson and Lottery.com.

Greenhope is a technology social enterprise with the mission to help the world convert toward more sustainable consumption and production through technologies in sustainable plastics and agriculture. Ecoplas, its patented cassava/tapioca-based degradable bioplastic, is sourced from farmer cooperatives across Indonesia who receive a ‘Fair for Life’ certified trade price for their work. Ecoplas has been used to make shopping bags, landfill covers, garbage bags, dog waste bags, packaging, and more. Oxium is a US-patented additive that speeds up the oxidation and biodegradation of plastic, rapidly shortening its molecular and chemical chains and making ordinary plastics degrade within two years into CO2, H2O, and biomass.

Greenhope’s 100% organic product, Komposku, rejuvenates contaminated soil and brings back its natural fertility to ensure better and sustainable yields and income for farmers. Greenhope actively collaborates with various parties across local and national governments, the private sector (manufacturers, brand owners), and NGOs in ten countries around the world (and expanding rapidly) to deliver systemic changes for a better and more sustainable world.

During the intensive program, Greenhope received mentorship and advice from business experts and serial entrepreneurs, including Tom Chi, former head of experience at Google X; Betty Hudson, President at Hudson & Associates and former Chief Communications Officer at National Geographic; and Hunter Lovins, TIME Magazine Hero of the Planet and founder of Natural Capitalism Solutions.

The program took place in Connecticut and included a curated funder’s gathering, where Greenhope showcased our innovation. “As an idealistic company trying to solve one of the world’s most challenging problems, it can feel lonely at times. Through Unreasonable Goals community of leaders and mentors, I learnt so much, gained many new friends, was energized and inspired, introduced to many new networks, and also contributed my expertise as part of the community. It was one of the life changing experience in my life, personally and professionally. Going forward, I fully expect to deliver greater positive impact together, enabled to a large extent by this program”, Tommy reflected.

Hosted by a different country every year, the partnership will run annually until 2030. “After running the initiative for 13 years, we will have worked with over 200 of the fastest growing and most promising global entrepreneurs of our time,” says Daniel Epstein, the founder and CEO of Unreasonable Group. “We will have partnered with several national governments and dozens of multinational corporations and organizations. It’s this collective global network that will direct billions of dollars to the world’s most pressing problems and impact billions of lives.”

Cumulatively, the 16 companies that participated in last year’s inaugural Unreasonable Goals program have raised over $174M USD, generated revenue of over $143M, and are already positively impacting the lives of nearly 95 million people in over 75 countries.

To learn more about this initiative and the ventures, visit https://unreasonable-goals.com/.

About the Companies

First Access (Goal #1: No Poverty) is creating the smart data platform with configurable mobile apps for lenders to digitize, automate, and reach any customer, anywhere.

ALGAMA (Goal #2: Zero Hunger) is harnessing the unique potential of micro-algae to make food that is sustainable and nutritious for a rapidly growing global population.

Copper3D (Goal #3: Good Health and Well-Being) is setting a new standard in the 3D printing industry by developing antibacterial nanocomposites that fight bacteria for printed prosthetics.

BRCK (Goal #4: Quality Education) is building the tools for connectivity to bring Africans online for free, securing over 250,000 users of its public WiFi platform in just a few months.

Bloomlife (Goal #5: Gender Equality) is designing the future of prenatal care with the most advanced combination of technology, science, and medical expertise, serving over 4,000 moms to date.

Cambridge Industries (Goal #6: Clean Water and Sanitation & Goal #7: Affordable and Clean Energy) is designing, constructing, and operating extremely cost-competitive and scalable waste-to-energy facilities customized for Sub-Saharan Africa.

LabourNet (Goal #8: Decent Work and Economic Growth) is improving worker skills and productivity in the informal sector through its vocational training programs, skilling over 700,000 people in India.

Ambercycle (Goal #9: Industry, Innovation, and Infrastructure) is transforming millions of tons of waste apparel into raw material for textile production, contributing to a fully circular supply chain for clothing by 2030.

Lidya (Goal #10: Reduced Inequalities) is building the financial services platform of the future for Africans worldwide, with over 100,000 businesses signed up for their service.

Roots Studio (Goal #11: Sustainable Cities and Communities) is digitizing the endangered work and stories of traditional artists from remote regions around the world into an online library for licensing, with over 2,000 artists to date.

Greenhope (Goal #12: Responsible Production and Consumption) is making plastics green by using agritechnology to make bio-based and degradable plastic alternatives, with its products in over ten countries and counting.

Veerhouse Voda (Goal #13: Climate Action) is providing environmentally sustainable and disaster resistant buildings to the Caribbean 5x faster than traditional methods.

Catalina Sea Ranch (Goal #14: Life Below Water) is creating the first aquaculture facility in U.S. federal waters to deliver fresh, sustainable, regenerative protein to feed the world.

Lingrove (Goal #15: Life on Land) is making wood without trees and creating high-performance and eco-friendly natural fiber materials to bring lighter, stronger, and better products to market.

IN-Code Technologies (Goal #16: Peace, Justice, and Strong Institutions) is countering illicit trade and creating a safer world by eliminating counterfeit markets with proven, invisible, anti- counterfeit marker technology.

Hala Systems (Goal #16: Peace, Justice, and Strong Institutions) is developing innovative technology solutions to reduce harm, increase security, and stabilize communities in some of the toughest places on Earth.

 

About Unreasonable Group

Unreasonable’s mission is to drive resources to and breakdown barriers for entrepreneurs solving key global challenges (i.e. ensuring renewable energy reaches the 1.3 billion people currently without electricity, reimagining the future of healthcare, or addressing the global unemployment crisis). Through running worldwide accelerator programs, a globally oriented private equity fund, an extensive network of serial business leaders as mentors, and advanced storytelling and media activities, Unreasonable is designed to exclusively support entrepreneurs positioned to solve society's toughest problems. For further information about Unreasonable, please visit our website, http://www.unreasonablegroup.com.

 

ecorasa: Sahabat Alam dan Makanan

ecorasa: Sahabat Alam dan Makanan

Beberapa tahun terakhir publik mulai diramaikan dengan berbagai berita dan kampanye mengenai gaya hidup zero-waste, isu mikroplastik pada air kemasan hingga kampanye anti plastik. Belum lagi dengan berbagai video yang beredar mengenai berbagai satwa yang menjadi korban dari ‘kecelakaan’ sampah plastik yang terbuang di laut. Baru-baru ini bahkan berbagai kota mulai menerbitkan peraturan yang melarang penggunaan kantong belanja plastik, seperti Bogor, Banjarmasin, Bandung, dan banyak lagi.

Hal tersebut turut memicu pertumbuhan gerakan-gerakan yang menawarkan solusi pengganti plastik yang layak diapresiasi, seperti gerakan membawa tas belanja sendiri, membawa botol minum sendiri, juga membawa kotak makan sendiri. Namun begitu efektivitas gerakan-gerakan tersebut tentu perlu dikaji lebih dalam mengingat pemakaian plastik yang sudah sangat masif dalam kehidupan manusia.

Plastik digunakan tak hanya sebagai kantong belanja, tapi juga sebagai kemasan, alat makan, kantong sampah, dan berbagai aplikasi plastik sekali pakai. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan bisakah kita hidup tanpa plastik?

Proses produksi plastik yang sejatinya merupakan bahan sisa olahan minyak bumi menjadikan plastik sebagai bahan yang paling hemat energi dan ramah lingkungan juga paling ekonomis. Fungsionalitas, fleksibilitas dan durabilitas yang sangat tinggi, memungkinkan plastik untuk menjaga makanan agar tetap awet selama proses penyimpanan dan distribusi. Karakteristik plastik yang sangat kuat juga cocok digunakan untuk membuat alat-alat rumah tangga, digunakan dalam industri penerbangan, elektronik, dlsb.

ecorasa - Solusi Holistik Dilema Kemasan F&B

Pemakaian plastik yang sangat masif tersebut ditambah dengan munculnya berbagai regulasi yang melarang penggunaan plastik menimbulkan kegalauan dalam masyarakat untuk mencari alternatif pengganti plastik. Terutama plastik sekali pakai yang berakhir di TPA dan bernilai ekonomis rendah sehingga menyulitkan pemulung untuk menjualnya ke pengepul daur ulang.

“Saya melihat masalah sampah plastik sudah semakin parah dan perlu gerakan nyata dari berbagai pihak, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, bahkan masyarakat umum untuk bersama-sama berperan aktif. Kalau kita lihat sampah-sampah plastik tersebut cukup didominasi oleh kemasan makanan sekali pakai. Untuk itu saya pikir, sudah waktunya perlu ada kemasan makanan dan minuman yang ramah lingkungan yang mudah terurai, tidak menjadi mikroplastik tapi luruh kembali ke bumi sehingga membentuk lingkaran produksi yang holistik. ecorasa hadir di masyarakat menawarkan solusi tersebut”, ujar Shivan, Direktur utama ecorasa, kemasan F&B yang ramah lingkungan dan mudah terurai.

Beliau menekankan bahwa plastik sudah sejak lama menjadi sahabat manusia modern tapi tidak bagi alam. Mulai dari proses urai yang membutuhkan waktu sepanjang 500 - 1000 tahun dan terfragmentasi menjadi mikroplastik yang membahayakan lingkungan.

ecorasa dengan Teknologi Oxium, Oxo-biodegradable Additive

ecorasa merupakan kemasan ramah lingkungan pertama di Indonesia yang mampu membuktikan bahwa produk-produknya dapat terurai kembali ke tanah menggunakan teknologi aditif pengurai plastik, Oxium. Oxium berfungsi sebagai pro-oksidan yang mampu memecah rantai karbon plastik yang panjang menjadi pendek dan mudah dimakan mikroba dan kembali ke tanah menjadi biomassa, H2O dan CO2. Hal ini memungkinkan kemasan makanan dan minuman ecorasa untuk terurai kembali ke tanah hanya dalam kurun waktu 5 tahun saja.

Pembuktian tersebut dilakukan melalui pengujian yang kredibel baik di Indonesia maupun di dunia internasional, diantaranya uji berstandar Amerika yaitu ASTM 6954, sertifikasi SNI Ekolabel Tipe 2, aman untuk makanan dan sudah dipatenkan di Amerika dan Singapura, meskipun teknologi tersebut merupakan 100% teknologi asli Indonesia yang ditemukan, dikembangkan dan diteliti di Indonesia.

Jadi sudah sepatutnya kita berbangga hati dengan inovasi dan kreasi anak bangsa yang sudah mendunia ini. ecorasa juga sudah menggandeng berbagai brand owner ternama yang memang sangat peduli terhadap lingkungan dan aktif mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan seperti Kulina, XXI, Grand Hyatt, dll. Kalau mereka saja sudah pakai ecorasa, kamu kapan?

Informasi lebih lanjut mengenai ecorasa dapat menghubungi:

Widya

P. +62 812-1281-1876 | E. hello@ecorasa.id


Manioc to the Rescue in the Fight Against Plastic Pollution

Comment

Manioc to the Rescue in the Fight Against Plastic Pollution

Plastic trash increasingly pollutes rivers and fills landfills. In Jakarta, two men are on a mission to offer alternatives that could have an impact on the environment and the economy, not just in Indonesia.

The stench is unbearable. The midday heat is beating down on the landfill near the Indonesian town of Tangerang in the greater Jakarta area. Huge cockroaches scurry across the 35-hectare (86.4-acre) site and new trucks arrive every minute, bringing tons of new garbage. Excavators pile it higher and higher. Between them, several hundred trash collectors toil under the merciless blazing sun. They look for plastic bags and plastic parts they can resell.

Sugianto Tandio shakes his head as he looks at the huge amount of plastic trash. "Each day, about 1,500 tons of solid waste comes here and 15 to 20 percent of it is plastic", says the engineer.

But conventional plastic takes an estimated 500 to 1,000 years to decompose. The plastic trash being piled up here in Tangerang will remain an environmental problem for many generations to come.

Plastic in fish

"Even today, a third of the fish in the ocean contains microplastics. Just imagine: every time you eat seafood it's like you have three fish in front of you and you have to decide, which fish you want to eat and which one you should avoid." It is not a problem we can leave to our children to solve, Tommy Tjiptadjaja thinks. "It is really all up to us. Our generation is the generation that has to take action."

Indonesians collect garbage in Tangerang as the nation's environmental problems are bound to affect many generations

Together with Tandio, the economist, who got his education in Chicago, has founded Greenhope, a company that develops alternatives to conventional plastic. One of their products is called "Ecoplas." It looks like plastic, but won't take 500 years to decompose. "It is a biodegradable polymer made from tapioca," Tandio explains.

He has spent years developing this product and holds many patents associated with it. He proudly presents a plastic bag, plastic cutlery and even a bag developed specifically for the United States. It's meant for collecting your dog poop. All of it biodegradable.

Together, the two entrepreneurs won the Schwab Foundation's "Social Entrepreneur Award" in 2013, bringing international recognition to their work. Tapioka is made from dried manioc root, also known as cassava. The plant is particularly popular in many tropical countries. Nigeria, Thailand, Brazil, Indonesia and Ghana are among the biggest producers. Tandio is convinced that using it for a plastic replacement could also be an opportunity for additional income for many small-scale farmers.

Paying with plastic takes on a new meaning in Indonesia

Plastic bag ban

As more and more countries are banning plastic bags or putting fees on their use, the interest in possible alternatives has grown significantly. Tjiptadjaja and Tandio are being invited to conferences and background talks worldwide. One of them just attended the big Our Ocean Conference in Bali, the other met for talks with the government of Malaysia. Kenya and some Latin American countries have voiced an interest as well.

Indonesia wants to ban plastic bags made from oil no later than 2020. Even now, Greehope's biodegradable alternatives are available in many Indonesian supermarkets and stores. "Ecoplas — Cassava-based degradable plastic" is printed on the bags, which, at first glance, are almost indistinguishable from conventional plastic bags. Greenhope already has a staff of 50 and everything points towards continued growth.

However, production is comparatively expensive. A biodegradable plastic bag costs almost twice as much to produce as a conventional one. As a result, consumers think twice before shelling out more for such a plastic bag.

Cheap alternatives

Tjiptadjaja and Tandio work on reducing the cost as much as possible and are expanding their small research and development department. One of their solutions is an additive they call  "OXIUM." Adding it to conventional plastic has the effect that the material breaks down after only 2 years.

The plastic is still made from oil instead of renewable organic raw materials but is biodegradable and the cost of plastic that contains OXIUM is only about 2 to 5 percent higher than that of conventional plastic. It's not an ideal solution but an improvement. Especially in poorer countries, the use of OXIUM could be a cheap alternative, say the entrepreneurs. Greenhope already sells it to South Africa, Malaysia and other countries.

Stability and safety

For landfills like the one in Tangerang, Greenhope offers large plastic tarps made with OXIUM. They could stem the horrible smells the people in surrounding towns and villages are exposed to and stabilize the growing mountain of trash at the same time. That is important because the high piles collapse occasionally.

But so far, Greenhope hasn't been able to sell TPA, the company that runs the landfill, more than two tarps a year. Tandio shakes his head and looks at the tall, shaky mountain of trash. The new trash should really be covered with tarps every day, he says, but TPA just can't afford to spend so much money.

Date: 05 November 2018

Author: Manuela Kasper-Claridge

Original Source: https://www.dw.com/en/manioc-to-the-rescue-in-the-fight-against-plastic-pollution/a-46125335

Comment

Mari Kurangi Sampah Plastik

Kantong plastik digunakan untuk menunjang kehidupan manusia. Sifatnya yang ringat, kedap air, kuat, dan fleksibel menjadi pilihan untuk membawa barang saat berbelanja. Namun pemakaian kantong plastik menjadi semakin tidak terkendali dan membawa masalah bagi lingkungan. Sedangkan secara alamiah kantong plastik konvensional baru bisa terurai setelah ratusan tahun.

Ratusan juta ton kantong plastik digunakan setiap harinya. Hal ini dibarengi juga dengan jumlah limbah plastik seperti kantong plastik, botol minuman, sedotan, dan banyak lagi yang terus bertambah. Padahal satu kantong plastik saja membutuhkan waktu 500 hingga 1000 tahun untuk dapat terurai dan kembali ke alam.

Setiap negara saling berlomba-lomba untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Di Kanada misalnya, pemerintah daerah kota Montreal menetapkan kebijakan yang berlaku mulai 5 juni 2018 akan ada larangan penggunaan kantong plastik secara keseluruhan dan denda bagi penggunanya.

Hal ini juga terjadi di negara-negara lain seperti Australia, Brazil, Afrika Selatan, dan masih banyak lagi. Sehingga mereka mulai mencari bahan pengganti plastik yang lebih alami dan mudah terurai. Indonesia sendiri juga sudah mulai bergerak untuk mengatasi masalah penggunaan kantong plastik ini, mulai dari pemberlakuan kantong plastik berbayar di pasar modern serta pengembangan teknologi untuk mencari kantong plastik yang lebih alami dan ramah lingkungan.               

Perlu disadari bahwa Permasalahan ini merupakan tanggung jawab seluruh warga di berbagai belahan dunia untuk kelangsungan bumi, satu-satunya tempat makhluk hidup tinggal. Masyarakat seharusnya menyadari bahwa kesadaran akan lingkungan perlu ditingkatkan. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini misalnya, masyarakat dapat memulai dengan melakukan diet kantong plastik. Cara lain untuk mengatasi penumpukan limbah plastik adalah dengan melakukan pemotongan tingkat limbah dengan beralih ke teknologi biodegradable misalnya.

Altenatif biodegradable ini dapat diraih dengan menggunakan pengembangan teknologi seperti melakukan penambahan additive dalam pembuatan plastik seperti oxo-biodegradable agar plastik bisa lebih cepat kembali ke alam. Bisa juga dicapai dengan cara alami seperti penggunaan plastik dari singkong misalnya. Teknologi ini sudah berhasil dikembangkan di Indonesia. Ecoplas merupakan salah satu produk dari Indonesia yang berhasil mengubah serat singkong menjadi plastik dengan kekuatan sama seperti plastik konvensional namun bisa terurai dan kembali ke alam dalam kurun waktu yang lebih cepat yakni sekitar 2 tahun saja.

Mari kita menjadi masyarakat yang cerdas, dengan mengurangi penggunaan plastik serta mengganti plastik menjadi lebih ramah lingkungan.

Let's Return Plastic To Earth

Dibandingkan dengan bahan material tradisional seperti kulit, kayu, karet, logam, dan lainnya, Plastik merupakan material yang paling umum digunakan dalam keseharian masyarakat modern. Tak hanya karena memiliki berbagai keunggulan seperti kuat, ringan, mudah dibentuk, dan tidak mudah pecah, tapi juga tahan karat.

Banyak produk yang bisa dihasilkan dari material ini mulai dari kemasan makanan dan minuman, perabotan rumah tangga, mainan anak-anak, peralatan tulis, bahkan hingga komponen kendaraan bermotor atau listrik. Namun sayangnya plastik membutuhkan waktu yang cukup lama yakni 500 hingga 1000 tahun untuk dapat. Maka tak heran jika sampah plastik merupakan penyebab utama timbulan sampah dan menjadi masalah dunia.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan plastik sendiri terus meningkat setiap tahunnya diiringi dengan peningkatan konsumsi dari masyarakat. Peningkatan konsumsi ini menggiring kita pada peningkatan limbah dari plastik itu sendiri.

 Seperti yang sudah lama kita ketahui bahwa ada acara untuk mengurangi limbah plastik yakni Reduce (pengurangan penggunaan plastik), Reuse (menggunakan ulang plastik seperti shopping bag), dan Recycle (mendaur ulang plastik). Adanya sebuah program pendaurulangan plastik merupakan salah satu cara untuk menangani limbah plastik. Namun ternyata hanya sebagian kecil dari limbah tersebut yang berhasil di daur ulang.

Terlebih dengan kondisi Indonesia yang luas program 3R saja tidak cukup untuk menangani limbah plastik yang ada. Sehingga diperlukan adanya solusi lain untuk penanganan limbah plastik ini salah satunya adalah dengan mempercepat proses penguraian plastik itu sendiri atau bisa disebut sebagai Return to Earth yang merupakan ekstensi dari program 3R yang sudah berjalan.

Solusi yang tepat untuk dapat melaksanakan program Return to earth adalah dengan menggunakan plastik yang lebih mudah terurai atau biasa disebut sebagai plastik ramah lingkungan.

Contoh plastik ramah lingkungan adalah plastik bio-based seperti ecoplas yang terbuat dari dasar starch (tepung) dari singkong yang merupakan produk asli Indonesia. Selain itu bisa juga dilakukan penambahan zat additive dalam produksi plastik agar menjadi lebih mudah terurai seperti penambahan zat oxo-biodegradable.

Dengan adanya plastik ramah lingkungan, rantai penguraian plastik yang sebelumnya bisa mencapai 500 hingga 1000 tahun dapat dipotong menjadi 2 tahun saja. Cara ini dapat dibilang cukup efektif karena dapat mengurangi penumpukan sampah berkali-kali lipat dibandingkan dengan plastik konvensional.

 

3R sebagai Solusi Permasalahan Sampah Plastik, Cukupkah?

Sampah berhubungan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Di DKI Jakarta khususnya sampah yang dihasilkan 7000ton setiap harinya dan 14% diantaranya merupakan sampah plastik (https://news.detik.com/berita/d-3825854/setiap-hari-jakarta-hasilkan-7000-ton-sampah). Ada banyak usaha telah dilakukan untuk mengurangi volume sampah tersebut seperti edukasi mengenai pentingnya memilah sampah, pengurangan penggunaan wadah sekali pakai, serta konsep 3R.

Saat ini sebanyak 460 bank sampah di DKI Jakarta sudah menjalankan program 3R tersebut. Bank sampah sendiri merupakan tempat penampungan sampah yang sudah dipilah-pilah, dimana nantinya sampah tersebut akan didistribusikan untuk diolah kembali. Namun sejauh ini baru sekitar 5% dari total keseluruhan sampah yang berhasil diolah oleh bank sampah dan didaur ulang.

Konsep 3R sendiri sebenarnya sudah berjalan cukup baik di negra-negara Eropa, terbukti dari volume sampah yang berhasil dikelola mencapai lebih dari 90%. Berbeda dengan Eropa, Indonesia merupakan negara dengan luas wilayah mencapai hampir 2,000,000 km persegi dan negara kepulauan yang terdiri dari 17,000 pulau. Kondisi geografis ini membuat pelaksanaan konsep 3R, dimana sampah plastik yang ada perlu dikumpulkan dan dikelola menjadi sulit dilakukan.

Untuk mengatasi permasalahan sampah plastik ini berbagai pihak akhirnya merumuskan gagasan-gagasan dimana selain 3R perlu ekstensi program seperti:


1. Replace

Masyarakat diarahkan untuk mengganti atau menghindari barang yang sekali pakai dengan barang yang bisa dipakai berulang-ulang. Misalnya membawa kantong sendiri saat berbelanja, atau penggunaan botol minum dan kotak bekal.

 

2. Repair

Usaha-usaha untuk mempebaiki kerusakan yang telah dibuat oleh manusia diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan lingkungan. Usaha perbaikan ini bisa berbentuk kampanye maupun kegiatan lain yang tujuannya untuk memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

 

3. Recreate / Recover

Sampah yang tidak dapat didaurulang dapat dikonversi menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar melalui proses thermal dan biological.

4. Return to Earth

Sampah pada akhirnya akan kembali terurai kedalam bumi, namun terkadang proses penguraian tersebut cukup panjang, seperti contohnya plastik membutuhkan waktu 500-1000 tahun untuk bisa terurai, maka diperlukan solusi plastik ramah lingkungan yang lebih cepat terurai.

Terlepas dari solusi-solusi yang telah dijabarkan diatas, masih banyak solusi lain untuk memerangi permasalahan sampah plastik ini. Namun tanpa dukungan dari kita, sebagai konsumen yang menghasilkan sampah plastik, solusi-solusi tersebut tidak akan berjalan efektif. Untuk itu, mari bersama-sama memerangi sampah plastik dengan menjadi solusi itu sendiri.

Teknologi Greenhope menjadi solusi dari pencegahan sampah plastik, kapan lagi kalau bukan sekarang?

Teknologi Greenhope menjadi solusi dari pencegahan sampah plastik, kapan lagi kalau bukan sekarang?

Pada 27 Februari 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menyelenggarakan  Workshop Pengelolaan Sampah di Pantai dan Laut di Hotel Borobudur (Jakarta) yang dibuka langsung oleh Ibu Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Acara tersebut juga dihadiri oleh Bapak Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Maritim beserta 200 pejabat daerah bupati dan walikota se-Indonesia. Menteri Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa sampah laut merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga beliau mengupayakan prinsip revolusi mental untuk merubah perilaku masyarakat Indonesia yang tidak hanya bergantung pada pemulung dan petugas kebersihan dalam mengelola sampah. Beliau juga berterima kasih terhadap pemerintah daerah, perusahan, aktivis, dan semua elemen yang berperan aktif dalam melakukan kampanye dan aktivitas terkait isu pengelolaan sampah.

KLHK juga mendatangkan pakar dari Jepang, Korea Selatan, Denmark, Swedia dan Jerman untuk berbagi informasi mengenai penanganan sampah di negara masing-masing. Teknologi penanganan sampah akan berbeda pada setiap negara, karena hal ini tergantung dari teknologi dan sumberdaya yang ada. Jepang menggunakan incenerator untuk pembakaran sampah yang dikonversi menjadi energi. Begitupun dengan negara yang lain yaitu Denmark, Swedia, dan Jerman. Sedangkan di Korea Selatan, negara tersebut menerapkan prinsip Ecotown, yaitu strategi penumbuhan ekonomi baru sekaligus menyelesaikan masalah sampah. Namun, langkah utama yang dilakukan oleh negara maju tersebut adalah tindakan pencegahan dengan melarang pemakaian plastik non-degradable dan menerapkan bea cukai pada plastik. Metode landfill juga diterapkan di negara Jerman namun dalam persentase yang kecil, dimana gas yang dihasilkan juga dimanfaatkan untuk energi.

Bapak Sugianto Tandio sebagai narasumber menambahkan bahwa Indonesia pada dasarnya telah memiliki teknologi yang mampu berdampak terhadap pengurangan sampah plastik, yaitu Oxium dan Ecoplas. Teknologi Oxium yang merupakan aditif pada plastik akan membantu proses degradasi menjadi 2-5 tahun. Sedangkan Ecoplas yang terbuat dari tepung singkong tentu saja tidak akan mencemari lingkungan karena terbuat dari bahan alami. Bapak Sugianto juga menambahkan bahwa adanya sampah plastik yang terdapat di laut adalah sebuah kecelakaan, karena tempat pembuangan sampah yang sebenarnya adalah TPS (Tempat Pembuangan Sampah) / landfill. Disamping itu, sampah plastik tidak bisa diatasi hanya dengan penggunaan teknologi yang lebih baik, namun juga diiringi dengan kesadaran dan perubahan gaya hidup ramah lingkungan. Prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Return to Earth) harus ada di setiap individu masyarakat Indonesia. Dengan begitu, Indonesia bebas sampah 2020 akan terwujud.

Sugianto Tandio, President Director PT Tirta Marta sekaligus Chairman Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya menerima penghargaan Global Listing – 50 Most Impactful Social Innovators

Sugianto Tandio, President Director PT Tirta Marta sekaligus Chairman Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya menerima penghargaan Global Listing – 50 Most Impactful Social Innovators

Bapak Sugianto Tandio menerima penghargaan sebagai 50 Most Impactful Social Innovators yang diselenggarakan oleh World CSR Day yang ke-6. Acara tersebut diselenggarakan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17-18 Februari 2017 di Taj Lands End Mumbai, Mumbai, India dengan agenda Social Innovator Conference and Award. Aspek yang didiskusikan pada konferensi tersebut adalah strategi sukses CSR ( Corporate Social Responsibility) sehingga dapat membentuk bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab serta pengaruhnya terhadap brand, image dan reputasi perusahaan.

CSR Award tersebut diberikan kepada 50 pelaku bisnis yang memiliki inovasi berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah Bapak Sugianto Tandio yang merupakan Presiden Direktur PT Tirta Marta sekaligus menjabat sebagai Presiden Komisaris Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya. Beliau menciptakan teknologi plastik ramah lingkungan dengan brand  Oxium dan Ecoplas yang  tak hanya inovatif tapi juga  mampu meningkatkan  kesejahteraan petani singkong di Bogor, Indonesia.

Oxium merupakan teknologi plastik ramah lingkungan yang digunakan sebagai aditif pada plastik sehingga dapat mempercepat proses degradasi dari 500-1000 tahun menjadi 2-5 tahun. Sedangkan Ecoplas menggunakan bahan baku singkong sebagai bahan pembuatan plastik yang tentunya ramah lingkungan karena berasal dari bahan alami. Bahan baku singkong didapat langsung dari petani binaan dengan harga diatas harga pasaran. Hal ini tentu akan secara otomatis menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus menyejahterakan petani singkong.

Atas komitmen Bapak Sugianto Tandio melalui perusahaannya untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekaligus sosial dan ekonomi kepada petani singkong Indonesia, beliau mendapatkan apresiasi dan penghargaan CSR Awards tersebut.

“SPECIAL RECOGNITION: STAKEHOLDER ENGAGEMENT”, SBA (SUSTAINABLE BUSINESS AWARDS) INDONESIA 2017,

“SPECIAL RECOGNITION: STAKEHOLDER ENGAGEMENT”, SBA (SUSTAINABLE BUSINESS AWARDS) INDONESIA 2017,

Jakarta, 4 Desember 2017 – Greenhope (PT Harapan Interaksi Swadaya) mendapatkan penghargaan SBA (Sustainable Business Awards) Indonesia 2017 untuk kategori Special Recognition: Stakeholder Engagement. Malam penganugerahan yang dilaksanakan di Grand Ballroom Hyat, Jakarta ini dihadiri oleh Presiden komisaris dan Presiden Direktur Greenhope, Sugianto Tandio dan Tommy Tjiptadjaja. Tak ketinggalan berbagai nama besar juga turut hadir pada acara bergengsi tersebut, seperti, Erna Witoelar (Pendiri dan Ketua Yayasan KEHATI), Shinta Kamdani (Presiden IBCSD dan Wakil Ketua Perempuan KADIN Indonesia). Bersama dengan Tony Gourlay (CEO Global Initiatives), Irhoan Tanudireja (Senior Partner PwC Indonesia) dan Nina Sardjunani (team Leader secretariat of Sustainable Development Goals (SDGs), mereka menjadi Dewan Penasehat Nasional Indonesia dalam SBA Indonesia 2017.

 

Sustainable Business Awards Indonesia

SBA merupakan lembaga penghargaan yang dibentuk oleh Global Initiatives dan PwC Singapore yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dalam berbisnis yang berkelanjutan dan secara nyata mampu menunjukkan manfaat bisnis berkelanjutan tak hanya terhadap perusahaan, lingkungan, tapi juga terhadap seluruh pemangku kepentingan. SBA kini telah dilaksanakan di 6 negara, dan berlangsung sejak tahun 2012.

“Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang memimpin pengimplementasian bisnis berkelanjutan pada strategi bisnisnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penghargaan ini juga bertujuan untuk menginspirasi seluruh lini bisnis, kecil maupun besar, untuk menjadikan bisnis yang berkelanjutan sebagai misi perusahaannya”, ujar Tony Gourlay, CEO Global Initiatives.

Bekerjasama dengan PwC Singapore, sebuah firma profesional terkemuka, SBA menyusun 12 kategori penghargaan sebagai berikut:

1)    Strategy and Sustainability Management:

2)    Workforce

3)    Community

4)    Energy Management

5)    Water Management

6)    Waste and Material Productivity

7)    Climate Change

8)    Supply Chain Management

9)    Land Use, Biodiversity and Environment

10)  Business Responsibility and Ethics

11)  Stakeholder Engagement and Materiality

12)  UN Sustainable Development Goals

 

“Special Recognition – Stakeholder Engagement”: PT Harapan Interaksi Swadaya (Greenhope)

Selain dari keduabelas kategori yang telah disusun tersebut, terdapat beberapa kategori lagi yang disusun ke dalam “Special Recognition”, yaitu Flagship, Sustainable Agriculture and Conservation Practices, GHG Emission Reduction, Employee Engagement, Stakeholder Engagement, Biomass Energy Initiative, Stated-Owned Enterprise, Energy Management, Water Stewardship, Health Education, dan Energy Management.

Greenhope merasa sangat bangga dan sangat berterima kasih kepada SBA Indonesia atas apresiasi dan rekognisi yang diberikan hingga ditempatkan pada kategori Special Recognition: Stakeholder Engagement. Penghargaan ini tentunya akan semakin menyuntikkan semangat dalam langkah-langkah Greenhope ke depannya untuk menghijaukan konsumsi dan produksi plastik di Indonesia secara khusus, dan dunia secara umum, untuk masa depan juga demi anak cucu kita nanti.

 

Simak informasi lebih lanjut pada tautan berikut: http://sustainablebusinessawards.com/winners/sba-indonesia/

Photo source: https://www.flickr.com/photos/2010b4e/albums/72157688057993982

SUGIANTO TANDIO: INDUSTRI HIJAU BERETIKA LINGKUNGAN & SOSIAL ITU PENTING!

Comment

SUGIANTO TANDIO: INDUSTRI HIJAU BERETIKA LINGKUNGAN & SOSIAL ITU PENTING!

Bertempat di Auditorium Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Presiden Komisaris Greenhope (PT Harapan Interaksi Swadaya), Sugianto Tandio, berkesempatan menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional yang dinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Unjani. Turut hadir pembicara yang lain seperti Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian, Ir. Teddy Caster Sianturi, M.A. dan Manajer Pengembangan Berkelanjutan (Sustainable Development Manager) PT Holcim Indonesia, Oepoyo Prakoso.

Dalam sesinya di seminar bertema Etika Lingkungan dalam Proses Industrialisasi Menuju Green Industry tersebut, beliau menyampaikan materi tentang Sudut Pandang yang Holistik dalam Revolusi Industri. Sudah tiga macam revolusi industri berjalan, namun masih banyak praktek industri yang tidak berjalan semestinya. “Yang kaya makin kaya, sedang yang miskin makin miskin, kan?”, kata beliau. Menurut beliau, bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak melulu berkonsentrasi pada profit. Lebih jauh lagi beliau menyebutkan bahwa penting bagi setiap individu untuk memikirkan aspek sosial, aspek lingkungan, dan tak lupa harus selalu mengingat Tuhan.

Banyak industri yang hancur karena keserakahan manusia yang berujung pada menjamurnya budaya korupsi. Beliau bahkan menceritakan sebuah fakta terkait VOC (Perusahaan Dagang Belanda) yang berhasil menjajah dan memonopoli perdagangan di Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda selama 300 tahun namun hancur karena korupsi.

Belajar dari apa yang telah terjadi tersebut, Sugianto Tandio berkomitmen untuk membangun Greenhope dengan etika-etika bisnis yang baik dan bertanggung jawab, tak hanya terhadap kemajuan perusahaan, kesejahterakan karyawan, tapi juga bertanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan. Beliau memastikan agar produk yang mereka buat betul-betul berasal dari sumber yang mampu dipertanggung jawabkan, membeli bahan baku dengan harga yang adil, menjual dengan harga yang adil dan tidak memberatkan konsumen dan masyarakat, juga aman untuk lingkungan.

Kepada para mahasiswa yang hadir, beliau juga berpesan agar generasi penerus bangsa ini memiliki idealisme dan passion untuk memajukan industri Indonesia yang lebih baik dan tidak lepas dari etika lingkungan dan sosial. “Karena masa depan Indonesia ada di tangan-tangan generasi muda seperti kalian”, ucap beliau sambil menutup sesi.

Comment

GRANDSTRA: Grand Strategy Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya 2017

GRANDSTRA: Grand Strategy Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya 2017

Dilaksanakan di Cikupa pada tanggal 06 Februari 2017 dengan memanfaatkan salah satu ruang serba guna yang ada di kawasan PT Tirta Marta, Grand Strategy Greenhope 2017 berjalan sukses. Acara yang disiapkan dalam waktu relatif singkat ini, dihadiri oleh seluruh karyawan Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya dari berbagai divisi.

Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Co-Founder & Chairman Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya, Sugianto Tandio. Dalam sambutannya, beliau membahas mengenai pentingnya etos kerja dalam tim. Dependen-Independen-Interdependen menjadi fokus beliau, dimana sebagai manusia mandiri kita harus bisa membawa diri sendiri dengan baik ke dalam keseharian dan pekerjaan kita, memberi dan menerima bantuan atau masukan dari orang lain, serta  harus bisa saling bekerjasama satu sama lain demi terciptanya ‘team work’ yang efektif, efisien dan harmonis.

Tommy Tjiptadjaja selaku Co-Founder & CEO Greenhope – PT Harapan Interaksi Swadaya pada sesi inti tak luput memberikan presentasi mengenai akar permasalahan plastik dan sampah plastik yang tak kunjung menemui solusi yang holistik. Hal tersebut dikarenakan pemahaman dari definisi masalah sampah yang tidak dilihat secara menyeluruh. Greenhope lahir dengan visi dan misinya sebagai solusi untuk Indonesia dan dunia dengan merumuskan definisi permasalahan sampah plastik secara holistik. Sebuah solusi yang tidak hanya memikirkan dampak lingkungan, tetapi juga berdampak positif terhadap sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Indonesia hingga dunia. Prinsip 4R ( Reduce, Reuse, Recycle dan Return to Earth) harus di dukung sepenuhnya.

Tak hanya untuk menyamakan persepsi akan nilai, visi dan misi perusahaan, Grandstra juga menjadi wadah untuk membahas gol perusahaan dari sudut pandang bisnis. Bersama-sama, seluruh karyawan dengan tim Manajemen menentukan gol yang ingin dicapai dan kebijakan-kebijakan apa yang perlu ditetapkan untuk meraih gol tersebut.

Grandstra diharapkan dapat terus dijalankan secara konsisten per 6 bulan untuk menjaga konsistensi pemahaman setiap individu dengan nilai-nilai perusahaan juga sebagai momen evaluasi bersama baik secara personal, maupun secara tim. Maka kita akan bertemu kembali dalam 6 bulan mendatang dengan membawa cerita baru yang lebih seru!

Mari bersama-sama menghijaukan produksi dan konsumsi plastik dunia. 

Comment

PROSES DEGRADASI PADA OXIUM

Plastik dengan teknologi oxo-biodegradable saat ini sedang mendapat banyak sorotan. Meskipun bisa dikatakan bahwa teknologi tersebut bukanlah teknologi yang relatif baru, namun masih banyak kesalahpahaman yang muncul karena kurangnya informasi/sosialisasi mengenai definisi teknologi oxo-biodegradable.

Oxo-biodegradable merupakan proses degradasi yang diinisiasi oleh termal, cahaya matahari dan proses oksidasi. Oxium, merupakan aditif yang dicampur ke dalam plastik agar dapat mempercepat proses degradasi plastik dalam kurun waktu 2 hingga 5 tahun. Proses penguraian yang terjadi tidak hanya terurai melalui proses oxo, tetapi juga terdegradasi melalui proses bio. Oxium menjadi pionir teknologi oxo-biodegradable buatan Indonesia dan telah dipatenkan di Amerika Serikat, Singapura, dan Indonesia, yang sejak awal terbukti efektif (melalui pengujian terukur berstandar internasional seperti ASTM D5208, D3826, D6954).

Fragmentasi vs Degradasi

Banyak kebingungan yang terjadi pada masyarakat mengenai proses degradasi plastik berteknologi oxo-biodegradable. Berbagai pihak beranggapan bahwa plastik berteknologi oxo-biodegradable membuat plastik hanya terurai secara fisik menjadi mikroplastik, sehingga diragukan keabsahannya sebagai plastik ramah lingkungan. Mikroplastik yang muncul dari fragmentasi plastik sering dikatakan sebagai penyebab rusaknya ekosistem biota laut yang jika termakan manusia menimbulkan isu kesehatan.

Pada plastik berteknologi Oxium, proses degradasi terjadi dalam dua tahapan, yaitu secara oksidasi kemudian secara biodegradasi. Di tahap oksidasi dengan bantuan panas, sinar matahari, tekanan-tekanan lainnya yang terjadi di alam, rantai molekul hidrokarbon plastik dan kimia yang sangat panjang mengalami pemutusan sehingga berat jenis plastik tersebut juga turun drastis. Degradasi ini sangat berbeda dengan fragmentasi, dimana pada fragmentasi hanya terjadi pemecahan secara fisik.

Setelah tahap oksidasi tersebut terjadi, plastik bukan lagi plastik tetapi menjadi partikel alami yang dapat dimakan mikroba. Mikroba akan memakan dan mengolah plastik yang telah teroksidasi ke tahap biodegradasi sehingga menjadi CO2, H2O dan biomassa. Sisa biomassa sudah diuji untuk dimakan cacing, menanam tanaman tomat, juga di dalam air dan terbukti tidak beracun sama sekali.

Hasil uji di atas juga diperkuat oleh banyaknya sertifikasi dan penghargaan yang diterima Oxium, diantaranya Sertifikat SNI Ekolabel Tipe 1 untuk kantong belanja ramah lingkungan yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sertifikat Halal, Sertifikat Green Label Singapore, juga Penghargaan dan Sertifikasi Green Label Indonesia yang dikeluarkan oleh InSWA (Indonesian Solid Waste Association), Penghargaan 103 Inovasi Paling Perspektif – 2011 oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Comment

Comment

Sosialisasi Program Monitoring Bersama KLHK, InSWA dan YPBI

Pada 9 Februari 2017 lalu, Greenhope bersama Yayasan PERISAI/ Indonesian Solid Waste Association (InSWA) dan Yayasan Peduli Bumi Indonesia (YPBI) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama meluncurkan Program Monitoring Plastik Mudah terurai Ekolabel Type 1 ber-SNI di Jakarta Pusat. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Greenhope untuk berkolaborasi bersama LSM mengelola sampah plastik yang dikatakan oleh berbagai pihak sebagai akar permasalahan munculnya bencana banjir, longsor, hingga ketidak seimbangan ekosistem biota laut dan darat. Program ini dilaksanakan dengan melakukan monitoring terhadap produk converter yang sudah menggunakan plastik mudah terurai berteknologi Oxium.

Greenhope merasa optimis jika penggunaan plastik mudah terurai dilaksanakan oleh berbagai pihak, maka akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pengurangan penimbunan sampah plastik di masyarakat. Karenanya Greenhope merasa penting untuk melakukan pengawasan terhadap penggunaan teknologi Oxium dan Ecoplas dari hulu ke hilir, dengan membuat program monitoring. Sosialisasi program monitoring juga bertujuan untuk menciptakan sumber informasi wadah antara Greenhope bersama LSM dan perusahaan converter dalam informasi dalam memahami pentingnya menjalankan program yang sustainable dan berkala.

Menanggapi sosialisasi Program Monitoring ini, Bapak Noer Adi Wardoyo (Kepala Pusat Standardisasi Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI)  sangat mendukung adanya program monitoring sehingga claim ramah lingkungan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya program monitoring ini lanjut beliau, sekaligus bisa menjadi sarana dalam memberikan advokasi untuk keberlanjutan bisnis dari perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan Greenhope dan NGO. KLHK pun akan mencanangkan program penggunaan kantong plastik mudah terurai di setiap instansi pemerintahan.

Salah satu bentuk komitmen dalam menjalankan Program Monitoring adalah dengan menetapkan label pada plastik yang telah menggunakan teknologi Oxium. Penggunaan label yang telah ditetapkan juga harus terkendali, mengikuti hukum dan aturan main yang berlaku. Label  yang telah ditetapkan tersebut adalah, setiap converter wajib mencantumkan tiga logo yaitu Logo SNI Ekolabel 1, Logo Oxium berlisensi dan Logo NGO (YPBI dan InSWA) seperti terlampir di bawah ini:

Label-Program-Monitoring.jpg

Teknis monitoring yang dilakukan adalah dengan pengambilan sampel dari converter, retailer dan kantong plastik yang beredar di lapangan secara acak. Setelah semua sampel terkumpul kemudian dilakukan pengujian di laboratorium untuk menganalisa jumlah Oxium yang digunakan. Hasil analisa tersebut akan disusun dalam bentuk laporan, artikel maupun surat penghargaan kepada converter yang telah menggunakan Oxium dengan dosis yang tepat maupun lebih. Sedangkan untuk converter yang kedapatan menggunakan dosis yang tidak sesuai, akan diberikan laporan dan pembinaan untuk bersama-sama melakukan pengontrolan produksinya.

Sosialisasi Program Monitoring ini secara keseluruhan mendapat sambutan yang baik dari para peserta. Mereka mendukung adanya penggunaan plastik mudah terurai dan mendukung program monitoring yang dijalankan. Hanya saja, perlu adanya kesadaran dari masyarakat dan sebagian besar pengusaha flexible packaging lainnya untuk bersama menyelesaikan masalah lingkungan kita. Mari kita bersama-sama menyelesaikan masalah sampah dengan menggunakan plastik mudah terurai ber-Ekolabel type 1 yang ber-SNI dengan bijak!

Comment

Comment

Redeeming Itself

SONY DSC
SONY DSC

It’s near impossible to dodge plastic in our lives. From medicine to packaging, food to electronics, plastic has firmly entrenched itself in many fundamental aspects of our lives. Every year, about one trillion plastic bags are consumed globally. When you take into consideration all sizes of plastic bags, that number could rise fivefold. The bags can take up to 1,000 years to break down, and images of unsightly plastic in dumps and in the ocean choking wildlife are regular scenes that have pushed the issue to a global scale. While the usefulness of plastic is hard to deny, the damage it wreaks as a result of its long lifespan is giving it some major bad press. This is something Indonesian engineer turned businessman Sugianto Tandio has been working hard at to redress.

Taking over the packaging business his father-in-law started, Sugianto invested a decade of time and money in research and development at Tirta Marta (http://www.tirtamarta.com), to produce a biodegradable alternative from tapioca that makes plastic products which can break down in two years. Cultivation of this non-genetically modified tapioca provides opportunities for farmers to earn a fair trade income from a crop that otherwise offers meagre economic return.

The two main patent-pending products, ECOPLAS and OXIUM, are available as an additive or resin and are being used in the manufacture of shopping bags, packaging, coat hangers, among other products. It costs about 5% more than conventional plastic, but the benefit of much-reduced longevity. Tirta Marta’s products are already in a dozen countries, and enjoy strong penetration in its home market, Indonesia, where it has around 30 manufacturing partners. It has five in China, 10 in Vietnam, a couple in Malaysia and one in Singapore.

Sugianto speaks to STORM about how plastic could redeem itself.

STORM: How did the idea of giving plastic a good reputation come about? SUGIANTO TANDIO: Tirta Marta is a secondgeneration family business that has been dealing with packaging and plastic for over 40 years. We’ve provided packaging for Unilever and other MNCs in Indonesia. I took over the business in 1995 and expanded it. But in 2000 I felt it was important to do a SWOT (strengths, weaknesses, opportunities and threats) analysis to see what we should do next.

The world uses around 275 million tons of plastic annually. Its growth almost tracks gross domestic product (GDP) figures — China’s GDP is about 8%, Indonesia’s 6-7%, and plastic use follows that. If you think about it, everything that man uses has some form of plastic. Today, there are more than 1,000 types of plastics and millions of applications.

It’s a miracle product. Imagine what we would use if we didn’t have plastic?

Prior to the invention of plastic, everything that needed to be preserved had to be bottled or put in aluminium cans. Those are bulky and expensive. For today’s global population of seven billion, how do you package the food?

It’s too bad the degradation time for plastic is too long.

After the SWOT analysis, we decided to embark upon something unusual for an Asian company. It took us 10 years to find a solution, and we hit the market in 2010. Since then we’ve penetrated lots of markets and won a lot of awards.

We started with shopping bags, which can be divided into modern (branded stores) and traditional (mom and pop shops) markets. We captured 90% of the modern market in Indonesia. Today, all the modern supermarkets in Indonesia are using our biodegradable bags.

STORM: What is the cost of your bag versus previous plastic bags? SUGIANTO: OXIUM is degradable plastic priced almost the same as regular plastic. ECOPLAS is 50% more expensive. Biodegradable plastic is not new. It’s been around for 30–40 years, but is mostly made from corn, which is a staple food in many countries and is probably 300% more expensive to use while disturbing the food chain.

Tapioca, which is what we use, is not a staple diet. It’s a tropical plant grown by many farmers. We picked it for a reason. Besides greening the environment, we are also able to help socially. We get the tapioca from the farmers, and we are the first plastic to have “Fair For Life” certification.

Plastic is made from petroleum, which comes from plankton. By origin, therefore, plastic is organic. If you compare the molecular structure of plastic with that of starch, the molecules combine hydrocarbon chains. Food, which has a polymer chain length less than 100,000 daltons (Da), is easy for microbes to consume. Plastic, however, has chain lengths that are seven million Da long — too long for the microbes to consume. That’s why it will last for hundreds of years. It takes that long for the chain to be broken down.

OXIUM is a catalyst that jump-starts the degradation process. We can tailor the degradation to suit the lifecycle of the product. The checkout bag, for instance, was invented in 1970, and today the world uses about one million a minute. We found out that 90% of people would reuse it as a garbage bag. And then it gets thrown away. So we look at that lifecycle, and figure two years is optimum for that bag to be reused and recycled. We put this two-year degradable period into the bag. This technology is not perfect but it’s better than 500 or 1,000 years. And we can do it at the same price as regular plastic.

STORM: When would you require longer degradation? SUGIANTO: In the modern market, the logistics is fairly straightforward — from the factory directly to the retailer. For the mom-and-pop shops it’s from the factory to the big distributors, then on to smaller distributors. There could be five to six layers involved. Our philosophy is to try and build some safety. Hence, we need a longer timeframe. Meanwhile, we will continue to interview stakeholders, and we will incorporate this information into the manufacturing process.

STORM: How do the plastics manufacturers view what you do? SUGIANTO: We tell them the writing is on the wall, so they need to do something about their business model.

In the last 50 years, manufacturers have become aware that plastic would be a public 60 enemy. Demand is high, but degradation time too long. So, 50 years ago they came up with the 3R strategy — reduce, reuse, recycle. Plastic?is not like steel or glass, which you reheat to 300°C and all the impurities separate naturally. Plastic is organic so you can’t recycle it forever. You?re-melt the plastic around 200°C and all the impurities are still in there. By the third time, it would be very smelly and the strength wouldn’t?be there. Recycling postpones the problem.

We look at ourselves not as a technology company but as a solutions provider. The manufacturers we partner like what we are offering. There are millions of applications, and we can’t get into all of them. After we created the technology we could process it downstream with existing plastic manufacturers, for instance those who create shopping bags, food trays, fork and spoons. To create retail hangers, we?impregnated tapioca resin with rice husk, as the fibre would make it stronger. We could have used different kinds of fibre — like wood fibre — but from a marketing standpoint you are disturbing the forest. Rice husk is natural and people just burn it after a harvest.

Untitled-1_750_
Untitled-1_750_

There’s plenty of it in Indonesia after the harvest.

STORM: How long does it take to develop a product-specific application? ?SUGIANTO: It takes three to six months to develop the specific technology. We also need to source partners. We could go into production within a year.

STORM: How versatile is it?? SUGIANTO: Our application is for disposable products. Bioplastics are made from renewable resources that are not degradable. For electronics, you want something permanent.

STORM: Do most people care about the impact of plastic on the Earth, or is it just a noisy few?? SUGIANTO: They care a lot...if it’s the same price. There’s a survey done that says 80% will use it if it’s the same price. 10% will use it if it’s 10–20% more expensive. I used to think that in Europe they would be willing to pay more because they are environmentally aware. But I found out that while the technology is there the price is three times more. So it’s not moving.

My European friend pointed out an example of an American company with a slogan championing low prices daily. He said: “Don’t think Americans are willing to pay more. And Europeans are cheaper than Americans.”

STORM: So, what’s your next strategy? SUGIANTO: We are still barely scratching the surface. If we can make all plastic biodegradable, that would be extremely useful. What differentiates soil in the garden from soil in the dessert is the amount of microbes in the soil. So if you can turn all this plastic into food for microbes, it will help to green the planet.

source: http://bit.ly/1qsuu9N

Comment

Comment

Cassava: An Indonesian Solution to the Global Waste Problem: Sugianto Tandio at TEDxJakSel

Sugi is president director of PT Tirta Marta, a flexible packaging company based in Tangerang, Indonesia, and worked as an engineer at 3M in Minnesota from 1988 until 1994. After ten years of research and development he successfully commercialized two new environmentally-friendly plastic solutions, which he patented as OXIUM and ECOPLAS. In this talk, contrary to conventional wisdom, Sugi implores us not to "say no to plastic" as long as it can be made bio-available. His products already dominate the market in Jakarta and he explains how the humble cassava could provide major benefits for the rest of the world as well.

In the spirit of ideas worth spreading, TEDx is a program of local, self-organized events that bring people together to share a TED-like experience. At a TEDx event, TEDTalks video and live speakers combine to spark deep discussion and connection in a small group. These local, self-organized events are branded TEDx, where x = independently organized TED event. The TED Conference provides general guidance for the TEDx program, but individual TEDx events are self-organized.* (*Subject to certain rules and regulations)

Comment

Comment

2nd Toward Healthy City Summit 2012 - Konferensi & Pameran Internasional "Menuju Kota Sehat di Indonesia"

Dasar PemikiranSejalan dengan pesatnya pembangunan maka permasalahan perkotaan, seperti pencemaran, kepadatan lalu lintas, kriminalitas, kemiskinan, kebersihan, tata ruang, pertumbuhan penduduk, pelayanan masyarakat, cenderung berkembang ke arah yang mengkhawatirkan.

Perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan di perkotaan guna meningkatan kualitas kota dan mewujudkan kota sehat, yaitu kota yang dapat memberikan keamanan, kenyamanan, ketentraman dan kesehatan bagi masyarakat perkotaan dalam menjalankan kegiatan kehidupan.

Upaya mengatasi masalah perkotaan meliputi seluruh tatanan kehidupan, yang terdiri dari perbaikan lingkungan fisik, sosial, ekonomi dan budaya diperkotaan, sehingga tatanan kehidupan masyarakat, ketahanan dan daya dukung perkotaan menjadi kuat.

Untuk menjadi KOTA SEHAT diperlukan kerjasama yang melibatkan semua pihak, baik dari permerintah kota, masyarakat kota serta pelaku bisnis serta diadakan kegiatan untuk mensosialisasikan kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan menuju gerakan kota sehat.

2nd Toward Healthy City Summit 2012 adalah kegiatan terpadu berupa konferensi internasional dan pameran yang diselenggarakan untuk ke dua kalinya sejak 2011 untuk menuju kota sehat di Indonesia.

Download Brosur 

Comment

Comment

The 7th Asian Pacific Landfill Symposium

APLAS is the international symposium which purpose is to manage the serious wastes issues/problems of the Asian-Pacific region. The symposium will provide an opportunity for professionals and researchers to learn, share and exchange about the latest development and research in solid waste management. The scope of the symposium will be broad, covering all aspects of solid and hazardous waste management, technology and engineering practices.

The 7th Asian Pacific Landfill Symposium

Sustainable Solid Waste Management for a Better Life

October 8th — 11th, 2012

http://www.aplasbali2012.org

 

Comment