Kantong plastik digunakan untuk menunjang kehidupan manusia. Sifatnya yang ringat, kedap air, kuat, dan fleksibel menjadi pilihan untuk membawa barang saat berbelanja. Namun pemakaian kantong plastik menjadi semakin tidak terkendali dan membawa masalah bagi lingkungan. Sedangkan secara alamiah kantong plastik konvensional baru bisa terurai setelah ratusan tahun.

Ratusan juta ton kantong plastik digunakan setiap harinya. Hal ini dibarengi juga dengan jumlah limbah plastik seperti kantong plastik, botol minuman, sedotan, dan banyak lagi yang terus bertambah. Padahal satu kantong plastik saja membutuhkan waktu 500 hingga 1000 tahun untuk dapat terurai dan kembali ke alam.

Setiap negara saling berlomba-lomba untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Di Kanada misalnya, pemerintah daerah kota Montreal menetapkan kebijakan yang berlaku mulai 5 juni 2018 akan ada larangan penggunaan kantong plastik secara keseluruhan dan denda bagi penggunanya.

Hal ini juga terjadi di negara-negara lain seperti Australia, Brazil, Afrika Selatan, dan masih banyak lagi. Sehingga mereka mulai mencari bahan pengganti plastik yang lebih alami dan mudah terurai. Indonesia sendiri juga sudah mulai bergerak untuk mengatasi masalah penggunaan kantong plastik ini, mulai dari pemberlakuan kantong plastik berbayar di pasar modern serta pengembangan teknologi untuk mencari kantong plastik yang lebih alami dan ramah lingkungan.               

Perlu disadari bahwa Permasalahan ini merupakan tanggung jawab seluruh warga di berbagai belahan dunia untuk kelangsungan bumi, satu-satunya tempat makhluk hidup tinggal. Masyarakat seharusnya menyadari bahwa kesadaran akan lingkungan perlu ditingkatkan. Untuk dapat mengatasi permasalahan ini misalnya, masyarakat dapat memulai dengan melakukan diet kantong plastik. Cara lain untuk mengatasi penumpukan limbah plastik adalah dengan melakukan pemotongan tingkat limbah dengan beralih ke teknologi biodegradable misalnya.

Altenatif biodegradable ini dapat diraih dengan menggunakan pengembangan teknologi seperti melakukan penambahan additive dalam pembuatan plastik seperti oxo-biodegradable agar plastik bisa lebih cepat kembali ke alam. Bisa juga dicapai dengan cara alami seperti penggunaan plastik dari singkong misalnya. Teknologi ini sudah berhasil dikembangkan di Indonesia. Ecoplas merupakan salah satu produk dari Indonesia yang berhasil mengubah serat singkong menjadi plastik dengan kekuatan sama seperti plastik konvensional namun bisa terurai dan kembali ke alam dalam kurun waktu yang lebih cepat yakni sekitar 2 tahun saja.

Mari kita menjadi masyarakat yang cerdas, dengan mengurangi penggunaan plastik serta mengganti plastik menjadi lebih ramah lingkungan.